Selasa, 15 Maret 2016

Ilmu Budaya Dasar

Haloo. . . . bagaimana kabar kalian ? . semoga baik baik aja ya :v, kali ini saya akan membahas tentang apa itu Ilmu Budaya Dasar. lansung di simaka saja :v. . . .




Pengertian Ilmu Budaya Dasar

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang astinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari th humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :
 

Kota Hilang Yang Pernah Ada

Maaf ane baru muncul lagi dari peradaban dunia maya :v, karena kesibukan yang tak diduga wkwkw :D
Hari ini ane akan memberi sesuatu rahasia tentang kota kota yang menghilang dari peradaban dikarenakan hal sesuatu,. oke langsung simak saja , berikut 3 Kota Hilang Yang Pernah Ada

Kota Pertama Yang Hilang yaitu,

LEGETANG 


Apakah ada yang tau cerita tentang dukuh Legetang? Banyak kok ceritanya bertebaran di inet. Dukuh Legetang terletak di desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, masih berada di wilayah pegunungan Dieng – Petarangan. Secara astronomis terletak pada 7.19416667S, 109.8652778E. Legetang merupakan tragedi terbesar yang melanda daerah Dieng melebihi peristiwa gas beracun kawah Sinila yang lebih tersohor daripada peristiwa Legetang. Inti ceritanya adalah mengenai dukuh yang diazab dengan longsoran dari gunung dengan suatu keanehan di mana keadaan longsoran yang tidak masuk akal.



Jarak dari kompleks wisata Dieng (Arjuna, Sikidang, Warna) menuju tugu Legetang tidak begitu jauh, cuma beberapa kilo. Jalannya pun masih sejalur dengan jalur menuju Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda. Kalau pernah ke Dieng tapi gak sampai tiga tempat tersebut begini petunjuknya, dari Dieng (gampangnya gapura perbatasan Wonosobo - Banjarnegara) menuju ke arah Banjarnegara, Batur, Wanayasa, dll. Sedikit kilo kemudian bakalan nemu pertigaan berbentuk Y, ambil jalur yang menurun, yang kanan, kalau kiri bisa juga tapi mutar jauh (ke kiri jalur ke telaga Merdada), nanti bakalan lewatin telaga Sewiwi, pertigaan arah Kawah Sileri, lalu perkampungan desa Kepakisan.


Setelah dari perkampungan, nanti di sebelah kanan bakal terlihat sungai, nah kalau sungai dah mulai terlihat coba lihat agak ke kanan atas ke arah gundukan bukit (bukan bukit yang jauh tapi yang dekat, dan jangan keterusan, lihat jalan juga :p), kalau cerah tugunya bakal kelihatan. Habis itu bakal lewatin jembatan sungai yang tadi, habis jembatan perhatikan ada jalan yang menuju ke atas di sebelah kanan, ambil jalan itu naik terus sampai lihat tugunya di sebelah kanan, tinggal parkir dan sedikit jalan. Oh iya sebenarnya jalan makadamnya cukup buat mobil (1 buah, kalau ketemuan berabe), tapi pas saya ke sana ada palang di jalur masuknya yang digembok, ya mungkin buat mobil cuma sampai bawah. Buat kendaraan umum gak ada ya yang lewat daerah situ, soalnya lewat jalur satunya

  
Tugu Legetang berlatar gunung Pengamunamun


Ada Apa Disana ??


Senin, 11 November 2013

Resensi Novel Kunang-Kunang

Hari ini dimana ane habis vacum dari dunia maya, ane akan memposting tentang resensi novel yang berjudul "Kunang-Kunang" , langsung aja di simak, semoga bermanfaat :o

Larik Larik Senyap



Judul                     : Kunang Kunang
Pengarang             : Delbin Clyte
Kota terbit             : Jakarta
Penerbit                 : Miracle Books
Tebal Halaman       : xii + 284 halaman
Dimensi                  : 13 x 19 cm
Harga                     : Rp 45.000,-
Tahun                     : 2013
ISBN                     : 602 – 17695 – 0 – 3 


                Langit sudah mulai meremang, entah dikarenakan cuaca mendung atau hari memang sudah beranjak malam. Anggara memarkirkan sepeda motornya tidak jauh dari pinggiran danau, yang terdapat jalan setapak yang terbuat dari semen. Kalau minggu pagi di danau ini cukup ramai, banyak orang-orang lari pagi atau sekedar mejeng.
                Dari kejauhan Anggara melihat seorang perempuan yang tengah berdiri di tepi danau tempat biasanya dia disana. Celana jeans hitam dan kaos bewarna merah memperjelas lekuk tubuh perempuan itu yang langsing dan berkulit putih. Anggara menjadi penasaran seperti apa wajah perempuan ini, sebab dari belakang nampak begitu sempurna.
                Anggara berniat melihat wajah si perempuan, namun tak ingin ketahuan kalau dia ingin melihat. Baru saja Anggara menoleh ke arah perempuan itu, si perempuan ikut menoleh ke arah Anggara. Tiba-tiba si perempuan menegur Anggara. Anggara berusaha menyembunyikan malunya dengan berkilah.
                   Tiba-tiba terdengar suara monophonic, khas salah satu merek ponsel, ternyata ponsel perempuan itu yang berbunyi. Ia segera menjawabnya, perempuan itu langsung pergi, Anggara memperhatikannya sampai perempuan itu sudah jauh.
               Sore itu suasana di danau begitu tenang, semilir angin berembus sepoi-sepoi menyebabkan daun-daun dan ilalang bergemerisik. Anggara sangat suka dengan suka dengan situasi seperti ini. Sembari menunggu hari gelap, Anggara mengeluarkan buku, semacam buku agenda, namun berisi kumpulan puisi yang dia tulis. Tak ketinggalan kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa serapan jawa, dan sanskerta sebagai panduan dia menulis puisi. Keadaan sore itu sungguh menggoda hasratnya untuk menulis puisi.
                Petang berangsur lindap. Satu per satu,  kunang-kunang bermunculan, hingga langit semakin gelap, kunang-kunang semakin banyak bermunculan dan berkerlap-kerlip. Anggara begitu menikmati keindahan lukisan alam yang tak terbantahkan ini. Keindahan yang telah pula terekam dalam larik-larik puisi Anggara tentang senyap.
Keunggulan buku : buku ini di tulis dengan menggunakan bahasa yang sederhana, pilihan kata-kata yang puitis, dan jauh dari kesan menggurui.
Kelemahan buku : adapun kelemahan buku ini dari peristiwa yang tidak patut kita contoh dimana siswa SMA Tritura mengikuti tawuran dengan sekolah SMA Budi Sakti.

 By : @yudafajar1

Senin, 29 Juli 2013

Fenomena Bumi

Kali ini saya akan membahas tentang "Mengapa Bumi Berputar Pada Porosnya" , "Andaikan Bumi Tidak Lagi Berputar" , dan "Bila Kutub (Magnetis) Bumi Terbalik" . Langsung saja,. 


yang pertama saya akan membahas tentang "Mengapa Bumi Berputar Pada Porosnya"

MENGAPA BUMI HARUS BERPUTAR PADA POROSNYA



Bukan hanya gerakan Bumi mengelilingi Matahari saja yang menimbulkan kekaguman. Sebab, selain berputar mengelilingi Matahari yang disebut revolusi, Bumi juga berputar mengelilingi dirinya sendiri yang disebut rotasi. Bumi sebenarnya berputar seperti gasing, tetapi sumbu putarnya tidak tegak lurus. Bumi berputar dengan posisi miring 23,5 derajat. Mengapa Bumi harus berputar pada dirinya sendiri atau berotasi, dan mengapa mesti miring posisinya? Kalau Bumi ini tidak berputar pada dirinya sendiri, maka di permukaan Bumi ini dipastikan tidak akan pernah terjadi kehidupan seperti adanya kini. Mengapa begitu? Karena akan ada bagian Bumi yang menghadap Matahari terus-menerus, dan juga akan ada bagian  yang membelakangi Matahari terus-menerus. Memangnya mengapa? Karena yang menghadap Matahari terus-menerus, dipastikan akan mengalami pemanasan yang berlebihan. Dengan kata lain, belahan Bumi itu mengalami siang terus. Sedangkan bagian yang tidak memperoleh cahaya Matahari, akan mengalami malam terus, bagian ini akan mengalami pendinginan terus-menerus.
Jika ada bagian Bumi yang mengalami siang terus-menerus, maka belahan Bumi itu akan mengalami pemanasan yang akan sangat terbayangkan tingginya. Diperkirakan dalam waktu 100 jam saja, air di permukaan Bumi yang menghadap ke Matahari itu akan mendidih. Dan 100 jam berikutnya, air yang ada akan menguap, sehingga tidak akan ada kehidupan di belahan Bumi yang mengalami siang terus-menerus itu. Sebaliknya, di bagian yang malam terus akan mengalami pendinginan secara berlebihan pula. Sehingga, diperkirakan dalam waktu 100 jam, belahan Bumi tersebut akan mengalami pembekuan. Seluruh air menjadi es. Dan 100 jam berikutnya, dipastikan tidak akan ada kehidupan di sana. Karena itu, Bumi perlu berputar pada dirinya sendiri alias berotasi. Jika Bumi tidak berotasi, maka konsekuensi dari pertanyaan Allah dalam ayat berikut ini akan terjadi pada kita :
Firman Allah dalam Qur’an surat Al-Qashash, juz 20 ayat 71-72 :

 (“Katakanlah) Muhammad  (‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar’?”).
(“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu, yang kamu beristirahat kepadanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”).